Rabu, Juli 09, 2008

Langkah-Langkah Kecil Menulis Cerpen

Sebuah pertanyaan umum yang sering terlontar dari penulis mula (saya tidak suka istilah ini karena kesannya merendahkan padahal saya tidak bermaksud begitu, namun kesulitan menemukan istilah lain yang lebih enak kedengarannya) adalah: “Bagaimana sebuah cerpen yang baik?”

Menurut saya, cerpen yang baik adalah cerpen yang telah dikeluarkan dari otak. Jika kita hubungkan dengan dunia menulis cerpen, maka cerpen yang baik adalah cerpen yang telah ditulis. Cerita itu tidak hanya berada dalam khayalan kita, melainkan telah kita tuangkan.

Kenapa begitu? Karena bagi saya, jika kita terlalu terfokus pada bayangan cerpen yang baik harus seperti ini-itu, sama saja berarti kita memasung diri dalam proses kreatifitas penciptaan. Kemungkinan besar jika kita beranggapan pada satu level “baik”, kita tak akan pernah mulai menulis karena terlalu sibuk dalam angan-angan utopia.

Kadar ‘baik’ di sini bukan berarti cerpen yang telah berhasil kita tuangkan lantas dianggap hebat oleh semua pembaca. Karena, disamping selera pembaca yang beragam, level baik menurut tiap pembaca pun beragam.

Namun setidaknya, jika kita telah melewati proses penciptaan, dan kita selalu berusaha berinovasi, selalu belajar dan tak pernah berhenti mencari, setiap karya yang kita hasilkan Insya Allah akan berkembang seiring waktu.

Proses inilah yang lebih dulu harus kita lakukan: menulis.


Bercerita

Bercerita bukan hal yang baru bagi kita. Ketika kita mendapatkan suatu pengalaman, atau menjumpai suatu keadaan, atau situasi tertentu, kita sering bercerita pada seseorang. Seperti ketika kita melihat sebuah buku bagus yang kita jumpai di perpustakaan, kita mungkin bercerita pada teman yang suka membaca. Kita ceritakan judul buku itu, penulisnya, penerbit maupun desain sampulnya yang menarik. Kita mungkin mengatakan begini: “Kemarin kan aku mengembalikan buku ke perpustakaan. Eh, ada yang ngembaliin buku bareng aku. Bukunya bagus, maksudku, covernya menarik. Berwarna merah jambu dengan ornamen gambar tangan yang lucu. Judulnya juga oke banget. “Kala cinta menggoda”. Waktu anak itu meletakkan buku yang hendak dikembalikan itu di meja, aku membaca nama penulisnya. Aveus Har. Aku ingat, aku sering baca tulisan dia di majalah-majalah. Karena penasaran, aku buka-buka dan membacanya sekilas. Wah, asyik banget. Penerbitnya Karya Rumah Imaji. Jadi pingin pinjam, sih. Sayangnya, dia bukannya mengembalikan buku itu, tapi memperpanjang masa pinjamannya. Uhhh … sebel, deh. Mana aku sudah ngebet pingin baca lagi.”

Nah, kita bisa bercerita, kan?


Menulis

Menulis adalah sebuah pelajaran yang sudah kita dapatkan sejak sekolah dasar. Merangkai huruf demi huruf menjadi kata, kata demi kata menjadi kalimat, dan menyusunnya menjadi sebuah paragraf, bukan sesuatu yang baru bagi kita.

Jika kita tuliskan cerita di perpustakaan tadi, misalnya, kita bisa menyusunnya, misal, seperti diatas itu. Nah, kita sudah menulis sebuah cerita. Cerita yang kita tulis itu adalah kisah nyata yang kita alami dan hendak kita ceritakan ke orang lain, misalnya pada seorang sahabat pena di mana cerita itu menjadi bagian dari surat kita.


Menghayal

Fiksi adalah sesuatu yang fiktif, bukan sebenarnya, reka khayalan. Cerpen adalah sebuah karya fiksi, meski mungkin saja berisi kisah nyata. Namun meski dalam cerpen tersebut berisi seratus persen kisah asli, ketika telah dituangkan dalam cerpen tetap dianggap kisah fiktif. Ini berbeda dengan tulisan non-fiksi dimana hanya hal-hal sebenarnya saja yang kita ungkapkan. Misalnya dalam tulisan jurnalistik ataupun feature.

Dalam cerpen, kita dituntut berimajinasi. Maka, kemampuan menulis cerpen menuntut pula kemampuan berimajinasi. Seorang penulis cerpen dituntut untuk menjadi seorang penghayal. Tapi bukankah sekali waktu, setidaknya, kita pernah menghayalkan sesuatu? Menghayalkan memiliki seorang pacar, menghayalkan seandainya lulus dengan nilai bagus, menghayalkan…. Nah, sering, kan?


Yup!, berarti kita telah memiliki modal untuk menjadi seorang penulis cerpen, karena kita sudah biasa ‘bercerita’, sudah bisa ‘menulis’ dan (pernah) ‘menghayal’. Maka, tunggu apa lagi? Yok kita mulai menulis, selangkah demi selangkah sebagai latihan awal.


Langkah kecil 1: Ancang-Ancang


Ide

Ketika kita menghadapi selembar kertas dan pena, atau selembar kertas pada mesin ketik, atau komputer yang menyala, apa yang hendak kita tulis? Oh, tidak!!! Kebingungan itu menyergap. Apa yang hendak kita ceritakan? Yup, kita memerlukan ‘sesuatu’ untuk diceritakan. Itulah ide.

Ide ada di mana saja. Namun seringkali kita (uh, termasuk saya!) memeras otak terlalu jauh hingga mengabaikan ide hebat di depan mata kita. Karena sesungguhnya suatu keadaan atau benda atau kejadian bisa menjadi sebuah ide bercerita atau tidak tergantung pada kepekaan kita menangkapnya.

Perhatikan sekitar kita. Seorang pengemis yang meminta derma mungkin hanya menjadi kejadian biasa saja dan tidak mampu menggerakkan kita untuk bercerita. Hujan yang turun di saat kita ada pertemuan pun hanya berlalu seperti biasanya. Namun dengan kepekaan kita bisa menangkapnya menjadi sebuah ide cerita! (Dan keduanya telah menjadi cerpen yang menarik yang bisa kita baca di buku antologi cerpen FLP Pekalongan “Gadis Halusinasi” terbitan Lingkar Pena Publishing House, Depok 2004). Atau ulangan yang sebentar lagi tiba, juga bisa memberi kita inspirasi. Hanya dengan menambahkan imajinasi pada kejadian itu!

Kita ambillah satu inspirasi itu. “Ulangan yang sebentar lagi tiba”. Banyak hal yang bisa kita gali disini. Bisa kita ceritakan. Bagaimana dengan “seorang tokoh yang berambisi meraih rangking satu demi mendapatkan beasiswa”, atau demi mendapat perhatian cowok gebetannya?

Atau ini saja: tentang bocoran soal ulangan!


Mengembangkan ide

Menambahkan imajinasi adalah mengembangkan ide yang mungkin tampaknya biasa-biasa saja dan tidak layak untuk diceritakan, menjadi sebuah cerita yang menarik. Contohnya tentang bocoran soal ulangan. Kita bayangkan bahwa ada seorang siswa yang membeli soal bocoran ulangan namun ternyata soal yang dibelinya itu tidak sama (berbeda) dengan soal yang diujikan. Ironisnya, dia tidak belajar dan hanya menyalin jawaban soal yang dia beli itu disebuah kertas kecil sebagai contekan.

Biasanya, ketika telah mendapatkan sebuah ide untuk diceritakan, jalinan cerita secara kasar atau secara garis besarnya sudah ada di benak kita. Akan seperti apakah nanti ceritanya, alurnya, gaya penceritaan kita dan ‘nasib’ tokohnya. Namun bukan suatu kesalahan jika dalam prosesnya nanti, kita menemukan inspirasi lain untuk mengubah. Tak apa, sepanjang kita merasa masukan baru itu menambah bagus cerita kita.

Karena ini cerita kita, dan kita berhak sepenuhnya atas cerita itu.

Ikuti saja bayangan kasar yang kita cipta dibenak hingga kita bisa membayangkan seutuhnya. Bayangan kasar yang kita dapat juga kita biarkan mengendap. Terserah berapa lama. Fungsinya untuk ‘mematangkan’ gambaran cerita di benak kita. Namun jangan kaget jika kita akan kehilangan embrio cerpen kita itu karena terlalu lama mengendapkannya. Makanya jalan terbaik adalah begitu kita merasa ide itu telah matang dalam benak, langsung kita ambil pena dan kertas, atau mesin tik, atau komputer, dan menuangkannya!

Bagaimana jika saat ide itu ada, kita jauh dari benda-benda tersebut? Untuk kasus seperti ini, adalah bijak jika kita mencoretkan bayangan kasar cerita kita itu dalam kertas. Terserah saja bagaimana kita mencoretkannya.

Seringkali saya hanya menuliskan judul dan saya langsung bisa mengingat ide yang telah matang itu, atau menuliskan salah satu dialog dari tokoh, atau konfliknya. Nanti kamu akan menemukan cara tersendiri yang lebih enak untukmu. Karena tiap penulis beda cara. Dan itu sah-sah saja.

Bisa juga kita buat kerangkanya seperti contoh di bawah ini:

  • Seorang teman tokoh bercerita tentang bocoran soal

  • Seorang cowok menawari bocoran soal pada tokoh

  • Tokoh terpengaruh karena dia ingin menarik perhatian guru dan teman-temannya dengan nilai bagus ulangannya. Terlebih, dia juga ingin menarik perhatian cowok incerannya.

  • Tokoh membeli secara diam-diam

  • Ending-nya berupa kejutan (suspense) bahwa bocoran soal yang dibelinya tidak sama dengan soal yang diujikan.

(Bisa kamu bayangkan bagaimana bentuk cerita itu? Cobalah bayangkan sesukamu, bisa kamu tambah dan kamu kurangi sendiri. Tulislah di secarik kertas. Oke?)


Memilih Judul

Memilih judul bisa dilakukan kapan saja. Bisa di tengah-tengah keasyikan kita merangkai cerita, bisa di akhir setelah kita menulis. Tapi sebaiknya sebelum kita mulai menuangkan ide yang telah berkembang di kepala kita tersebut, kita langsung menuliskan judul ceritanya. Karena dengan menulis judul tersebut cerpen kita setidaknya punya batas sehingga tidak melantur ke mana-mana.

Tidak masalah kalau di kemudian waktu kita menemukan judul yang terasa lebih bagus, lebih sesuai dan kita menggantinya. Toh kita penciptanya bukan? Jadi boleh dikata suka-suka kita, lah.

Dalam pemilihan judul ini, sering kali kita kesulitan menemukan judul yang sreg. Judul memang setidaknya bisa mewakili isi, membawa pembaca ingin tahu lebih dalam dan enak dibaca atau diucapkan. Judul yang terlalu panjang, terlalu muluk, terlalu puitis tapi tidak relevan, hanya akan membuat pembaca terlalu eneg.

Ada memang yang mengalami kesulitan dalam pemilihan judul ini. Jika begitu, saya menyarankan untuk lebih banyak membaca cerpen di berbagai media dan mencoba mencari alternatif judul sebanyak mungkin untuk cerpen yang kita baca. Lalu coba pilihlah salah satu alternatif judul yang kita berikan, dan kita tuliskan di atas judul asli, misalnya dengan menuliskan judul baru tersebut di secarik kertas dan menempelkan hingga judul asli tersembunyikan. Kemudian baca kembali cerpen tersebut beberapa waktu kemudian dengan judul yang kita berikan. Latihan ini akan bermanfaat ketika kita memerlukan judul untuk ide kita.

Ide tentang bocoran soal tadi saya beri judul “Jalan Pintas”. Judul ini cukup mewakili isi (jalan pintas mendapatkan nilai bagus), membawa pembaca ingin tahu (ada apa dengan jalan pintas? Jalan pintas apa?), enak dibaca dan diucapkan. Kamu punya judul lain? Coba aja kamu tulis di secarik kertas.


Konflik

Cerpen adalah cerita dengan satu konflik utama. Inilah bedanya dengan novel yang bisa menggunakan banyak konflik dalam rangkaian ceritanya. Konflik adalah pertentangan yang terjadi yang membuat cerita itu menjadi layak untuk diceritakan.

Dalam ide yang kita kembangkan tadi, konfliknya adalah “keinginan meraih nilai ulangan bagus dengan mudah namun ternyata malah terperosok”. Konflik utama ini bisa kita pecah menjadi ‘anak-anak konflik’ yang membangun cerita. Anak-anak konflik ini akan berkembang dengan sendirinya seiring kita menuangkan cerita kita. Dalam prosesnya nanti, kita akan terus mencari dan mencari.

Anak-anak konflik yang saya temukan untuk membangun cerita yang saya bayangkan adalah:

  • Teman tokoh yang hendak meminjam uang dalam jumlah cukup banyak yang membuat tokoh curiga dia menyelewengkan uang spp.

  • Cerita teman tokoh tentang bocoran soal uub dan ketidakyakinan tokoh akan manfaat bocoran soal tersebut.

  • Seorang cowok yang menawari tokoh bocoran soal yang membuat tokoh mulai terpengaruh.

  • Cowok inceran tokoh yang lebih tertarik pada cewek pintar.

  • Larangan kakak tokoh untuk tidak percaya jalan pintas.

  • Saat uub yang ternyata soal yang diujikan berbeda dengan bocoran soal yang dia beli.


Tokoh & Karakter

Dalam cerita kita memerlukan tokoh untuk menghantarkan buah pikiran kita. Tokoh ini bisa apa saja. Bisa pula siapa saja. Kita bisa membuat cerpen dengan tokoh benda, semisal: Baju, Sepatu, Pohon. Atau hewan sebagaimana dalam fabel Si Kancil. Namun juga bisa sesuatu yang abstrak, semisal waktu atau masa.

Tokoh manusia tampaknya lebih mudah untuk awal menulis kita. Sebaiknya kita menggunakan satu tokoh utama dalam cerpen karena terbatasnya konflik dan halaman.

Karakter tokoh dalam cerpen seringkali tidak sedetail dalam novel. Tapi setidaknya, sebelum kita menulis kita sudah bisa membayangkan karakter seperti apa untuk tokoh kita.

Karakter tokoh dalam cerpen “Jalan Pintas” ini tak begitu beda dengan karekter umum cewek-cewek smp. Ambil saja satu orang teman untuk kita jadikan figur tokoh imajinasi kita. Meski karena tokoh imajinasi, figur itu tidak harus kita gambarkan sebenarnya. Ingat saja, ini tokoh kita, dan kita berhak menakdirkan dia seperti apa.


Setting tempat dan waktu

Dalam cerpen, setting tempat dan waktu seringkali tidak terlalu mendetail seperti halnya dalam novel. Namun tidak salah (atau lebih baik) jika kita pun memperhatikan benar hal ini. Meski begitu, sering kali setting tempat hanya kita bayangkan selintas. Misalnya, setting cerpen “Jalan Pintas” ini hanya sekolah (bayangkan sekolah pada umumnya), kafe (bayangkan kafe yang pernah kamu singgahi).

Dalam perkembangan penulisannya, setting ini akan berkembang dengan sendirinya seiring penemuan-penemuan baru di waktu proses penuangannya. Mungkin ada adegan di jalan, di pasar atau lainnya.

Kalau kita akhirnya membutuhkan beberapa detail tempat, kita bisa melakukan observasi atau membayangkan suasana jalan, pasar dan lainnya itu. Begitu juga dengan setting waktu.


Penceritaan

Penceritaan menyangkut sudut pandang penceritaan, alur penceritaan dan gaya penceritaan. Pemilihan penceritaan ini biasanya sudah kita bayangkan dalam pengembangan ide di atas. Dalam bayangan kasarnya, kita sudah bisa melukiskan bagaimana kita akan menceritakan kisah tersebut.

Sudut pandang penceritaan bisa kita gunakan dengan sudut pandang tokoh utama (aku), atau sudut pandang si maha tahu (nama tokoh). Kita bebas menggunakan yang mana pun. Namun dalam contoh kita kali ini, saya akan menggunakan sudut penceritaan si maha tahu dan menggambarkan tokoh rekaan kita sebagai cewek smp bernama “Sonia”.

Alur penceritaan kita susun saja secara berurutan (maju) dengan sekali ada kilas balik (flashback). Alur mundur membutuhkan keahlian tersendiri yang bisa kita dapatkan dengan banyak membaca cerpen beralur mundur dan berlatih. Namun untuk awal kepenulisan, alur maju lebih mudah kita pakai. Kilas balik (flashback) lebih berfungsi sebagai variasi alur agar cerita kita tidak menjemukan.

Gaya penceritaan terserah kamu. Yang jelas, kita musti konsisten. Kalau kita mau menceritakan dengan gaya puitis melankolis, kita musti konsinten tidak melucu karena malah akan merusak atmosfer cerita yang kita bangun. Kalau mau gaya melucu, tetaplah dengan gaya humormu itu. Gaya penceritaan ini bisa kita amati dari cerpen-cerpen yang ada di majalah dan kita pelajari. Tak ada salahnya jika kita terpengaruh gaya penceritaan orang lain, misal gaya ngocolnya Hilman, atau gaya melankolis-puitisnya Kahlil Gibran, atau gaya Teenlit yang mengalir seperti air dan renyah seperti kacang.



Langkah kecil 2: Mulai menulis

Cerpen bisa kita mulai dengan pemaparan tempat, keadaan, suasana, psikologis atau pun langsung dialog. Namun sebaiknya, pembukaan tidak bertele-tele. Setidaknya, cukup untuk mengantarkan pembaca pada masalah yang terjadi.

Misalnya kita mulai dengan pemaparan kedatangan Sonia ke sekolah yang masih pagi sekali.


Sonia menyandarkan federalnya di samping tiang penyangga atap parkiran. Masih sepuluhan sepeda yang menemani sepedanya. Hari masih pagi sekali. Belum banyak siswa yang datang.

Kelasnya juga masih lengang. Baru seorang selain dia, sedang menyapu. Namanya Rini, anak pindahan dari Yogya. Anaknya pendiam. Dia hanya menoleh dan melemparkan senyum pada Sonia.


Lalu kedatangan “Luna”, teman Sonia yang kemudian membawa ke anak konflik pertama yakni “teman tokoh yang hendak meminjam uang dalam jumlah cukup banyak yang membuat tokoh curiga dia menyelewengkan uang spp” (lihat di pembahasan konflik).


Sonia mengambil sapu di sudut kelas. Baru tiga ayunan dia menyapu ketika Luna masuk dan langsung menyeretnya ke sebuah sudut.

“Kamu punya uang?” bisik Luna.

“Mau pinjam?” tebak Sonia. Luna buru-buru memberi isyarat supaya tidak bicara keras-keras. Rahasia.


Dan cerita selanjutnya bergulir ke anak konflik ke dua yakni “cerita teman tokoh tentang bocoran soal uub dan ketidakyakinan tokoh akan manfaat bocoran soal tersebut”. Begitu seterusnya cerita mengalir hingga ending, yakni saat uub yang ternyata soal yang diujikan berbeda dengan bocoran soal yang dia beli.


Bel tanda mulai mengerjakan soal berbunyi. Sonia membaca lembar soal di hadapannya. Tapi seketika itu juga ketenangannya terusik rasa cemas. Dibaca lagi, sambil diingatnya soal yang dia beli itu. Tidak sama. Sonia yakin memang beda.

Kok jadi begini? Sonia makin was-was. Setelah itu keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Sonia kalut, bingung, jengkel….


Kapan kita mengakhiri cerpen kita? Begitu konflik telah tuntas kita selesaikan, saat itulah cerpen kita akhiri. Paragraf contoh diatas bisa menjadi suatu ending yang terbuka jika kita biarkan saja cerita berakhir dengan masih menyisakan kelanjutan di benak pembaca. Bagaimana nasib si tokoh kemudian? Namun jika kita lebih suka menutup ending, bisa kita tambahkan sedikit paragraf yang mengakhiri cerita tersebut dengan semacam kesimpulan (ending tertutup). Semisal:


Sonia sadar jalan pintasnya salah arah. Sialnya dia sama sekali tidak belajar. Tubuhnya lemas seketika. Buyar sudah angannya untuk menyaingin Pradit atau Rini, sekaligus membuat guru dan teman-temannya terlongo. Justru dia yang bakal terlongo, menyesali semuanya.


Langkah kecil 3: Membaca ulang dan mengirimkan ke media


Setelah cerita selesai kita tuangkan, adalah bijak jika kita menyimpannya untuk beberapa waktu dan membacanya kembali. Baca kembali seolah bukan kita penulis cerita itu. Baca dengan kekritisan seorang pembaca. Mungkin kita akan menemukan hal-hal baru dan masukan baru. Tak apa jika kita ingin merubah/memperbaiki cerpen kita setelah kita membaca ulang.

Jika sudah mantap, kirimkan ke redaksi majalah. Bagus juga jika kita membuat kopiannya. Tapi jangan pernah menunggu cerpen itu dimuat. Biarkan saja nasib cerpen itu dan lupakan. Lebih baik kita mulai lagi menulis cerpen baru, memulai kembali prosesnya dari awal.

Akhirnya, dengan banyak berlatih dan membaca cerpen orang, kita akan mengalami proses pendewasaan karya. Yakinlah, tak ada yang sia-sia jika kita sungguh-sungguh mau berusaha.


Sekedar informasi, saya mulai menulis cerpen dan mengirimkan ke majalah sejak pertengahan tahun 1996 dan selama itu saya rajin menulis dan mengirimkannya ke media meski tidak pernah dimuat dengan rata-rata mengirim tiga – empat cerpen tiap bulannya. Dan pertama kali dimuat di akhir tahun 1997, sekitar satu setengah tahun kemudian.

Sekarang (2005) saya sudah mengirimkan lebih dari duaratus naskah dan baru sekitar tujuhpuluh lima yang telah dimuat di majalah!

Jadi, tutup dan simpan tulisan ini, dan mulailah mengambil ancang-ancang dan menulislah sekarang juga. (aveus har)

3 komentar:

adn@n mengatakan...

Maaf saya mengunjungi dan membaca blognya.

Thanks atas tips-nya tentang menulis cerpen yang baik. Saya udah lama sih nulis cerpen, tapi banyak kekurangan dan masih terus belajar.

Nggak apa-apa ya tips ini saya berikan ke penulis pemula lainnya yang memerlukan?

Oke, thanks.

rois mengatakan...

waaahhh...

tips yang sangat membantu gw sbg anak sastra..

thnaks bgtz ya??

gemini_girl mengatakan...

mkcie atas tipsnya


osis smkn 45